Berita 21 Jul 2026 6 Dilihat

Skrining TBC Sebagai Upaya Deteksi Dini Pencegahan Tuberkulosis

Website Resmi Desa Pancurendang

Skrining TBC Sebagai Upaya Deteksi Dini Pencegahan Tuberkulosis

Pancurendang, Senin, 20 Juli 2026 -  Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini sering kali tidak disadari gejalanya pada tahap awal, sehingga penderita terlambat mendapatkan penanganan dan tanpa sengaja menularkannya kepada orang-orang terdekat. Untuk mengatasi hal ini, pelaksanaan skrining TBC di tingkat desa menjadi strategi efektif sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan penyebaran yang lebih luas.

Desa Sebagai Garis Depan

Dengan membawa program skrining langsung ke tengah masyarakat, pendekatan secara kekeluargaan, dan  memanfaatkan kedekatan sosial antar warga menjadikan pendekatan kesehatan berbasis komunitas atau desa memiliki peran krusial dalam pemberantasan TBC, karena biasanya penderita TBC enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan besar sebab masih ada stigma negatif terhadap penyakit TBC.


Bertempat di Aula Krida Manggala Balai Desa Pancurendang, pada Senin, 20 Juli 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas bersama Puskesmas Ajibarang II, Pemerintah Desa Pancurendang, dan Kader Kesehatan Desa Pancurendang, melaksanakan deteksi dini TBC di Desa Pancurendang. dengan beberapa langkah antara lain :

  • Penyuluhan dan edukasi : Sebelum skrining dilakukan, warga diberikan edukasi mengenai gejala utama TBC, seperti batuk lebih dari dua minggu, berkeringat di malam hari tanpa aktivitas, penurunan berat badan, dan demam meriang.
  • Active Case Finding : Kader kesehatan dan tenaga medis dari Puskesmas melakukan pendataan warga yang memiliki gejala atau memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC aktif.
  • Pengumpulan Dahak (Sputum) di Tempat: Bagi warga yang dicurigai memiliki gejala (suspek TBC), petugas akan membagikan pot dahak dan mengajarkan cara mengeluarkan dahak yang benar. Dahak ini kemudian dikumpulkan dan dibawa ke Puskesmas / laboratorium rujukan untuk diperiksa menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM).
  • Investigasi Kontak (IK) : Bila ditemukan warga yang positif TBC, kader & petugas kesehatan akan segera melakukan pelacakan terhadap beberapa orang terdekatnya (anggota keluarga dan tetangga) untuk memastikan penyebaran bakteri belum menyebar.


Manfaat Deteksi Dini TBC

Pelaksanaan  deteksi dini di tingkat desa memberikan dampak yang sangat besar antara lain :

  • Mencegah Penularan Massal : Penderita TBC aktif yang tidak diobati dapat menularkan bakteri kepada 10 hingga 15 orang dalam setahun, menemukan satu kasus lebih awal berarti menyelamatkan belasan orang lainnya.
  • Peluang Kesembuhan Lebih Tinggi : Pengobatan yang diberikan sejak awal sebelum paru-paru mengalami kerusakan parah akan memberikan haasil yang jauh lebih baik dan cepat.
  • Meringankan Beban Ekonomi Keluarga : Penanganan sejak dini mencegah penderita jatuh pada kondisi kritis yang mengharuskan rawat inap atau kemampuan untuk bekerja.

Dari  pelaksanaan kegiatan Skrining / deteksi dini TBC di desa Pancurendang didapat hasil : 100 orang ter X-Ray, 56 orang hasil TCM negatif, 2 orang mendapatkan TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis), dan 6 orang direncanakan akan mengadakan Tes Mantoux.

Pada akhirnya upaya penanggulangan TBC bukan hanya tanggung jawab dokter maupun tenaga medis saja, melainkan tanggung jawab bersama. Melalui pelaksanaan kegiatan Skrining / Deteksi Dini yang terstruktur, target Indonesia bebas TBC bukan suatu hal yang mustahil untuk dilakukan.

Tulis Komentar